Puluhan pelajar jurusan Usaha Perjalanan Wisata SMK Negeri 3 Kota Sukabumi, Jawa Barat mendapatkan tips bila bertemu ular saat memandu wisatawan di alam terbuka.

Langkah ini dilakukan agar ke depannya, bila para pelajar jurusan kepariwisataan ini membawa wisatawan sudah bisa menanganinya sendiri bila bertemu ular.

Pengenalan ular bagi para pelajar ini digelar bekerjasama Taman Belajar Ular (Tabu) Indonesia, Depok dengan Biro Perjalanan Tanjung Sari yang digelar di Selabintana, Sukabumi, Selasa (10/10/2017) lalu.

”Tadi sudah dikenalkan dan praktik tips bila bertemu dengan ular. Tadi kami sampaikan tips STOP yaitu silent, thinking, observation dan prepare,” kata staff Tabu Indonesia, Ligar Sonagar selesai kegiatan, Selasa petang.

Dia menjelaskan satu persatu kepanjangan STOP. Yaitu S kepanjangan silent yang artinya diam dan tidak bersuara. Jika melihat atau bertemu dengan ular sebaiknya diam dan tidak bergerak. Karena ular mempunya penglihatan yang agak rabun.

”Tadi ada lima pelajar juga praktik silent, tidak bergerak saat ular kobra dilepaskan. Ular itu bergerak di antara sepatu mereka, karena dikira kaki mereka itu pohon,” jelasnya.

”Namun, bila ada pergerakan tentunya ular itu juga akan spontan menggigit atau menyerang karena dikiranya ada ancaman,” sambung dia.

Selanjutnya huruf T merupakan kepanjangan thinking yang artinya berpikir. Saat berdiam diri itu, harus berpikir juga bagaimana caranya menghindar dengan selamat dari ular.

”Kita juga harus cepat berpikir untuk keluar dengan selamat dari ular yang berada di dekat kita itu,” kata Ligar yang juga anggota Volunteer Panthera.

Berikutnya kata dia huruf O kepanjangan observation yang artinya pengamatan di sekitar lokasi. Pengamatan ini mulai dari depan, samping kiri dan kanan juga bagian belakang.

”Pengamatan ini dilakukan untuk mencari jalan agar kita bisa kabur dengan selamat. Jangan sampai karena ketakutan kita lepas kendali malah membahayakan diri sendiri,” jelasnya.

Kemudian adalah huruf P kepanjangan prepare yaitu siap-siap. Setelah observasi atau mengamati sekeliling lokasi yaitu mempersiapkan diri untuk menghindar dari keberadaan ular tersebut.

”Setelah observasi, pada tindakan terakhir ini yang paling aman langsung menghindar, kabur. Tidak membunuhnya dan biarkan ularnya juga hidup bebas,” tutur Igor sapaan akrab Ligar.

Salah seorang siswi, Nabila Fauziah mengakui awalnya bila mendengar kata ular saja sudah takut dan apalagi bila melihat langsung. Namun setelah mendapatkan tips dan praktik bila bertemu ular rasa takutnya mulai menghilang.

‘Awalnya takut, karena ular itu identik dengan berbisa dan mematikan. Kalau sekarang sudah mulai tidak takut, tadi juga sempat memegang ular sanca, malah jadi suka,” aku siswi kelas 10 jurusan Usaha Perjalanan Wisata.

Ketua Tabu Indonesia, Erwandi ‘Elang’ Supriadi menambahkan selain mendapatkan pengenalan ular dengan tips STOP bila bertemu ular, juga dikenalkan cara penanganan gawat darurat bila digigit ular.

”Setidaknya para pelajar ini nantinya saat memandu wisatawan bisa mengenali dan membedakan mana ular yang berbisa dan tidak berbisa. Juga melakukan tindakan darurat bila digigit ular,” tambahnya.

Comments

comments

, ,
budiyanto sukabumi

Budiyanto hanyalah seorang individu yang sedang mengembara di muka bumi ini, dan untuk mengisi waktunya, agar dapat bermanfaat bagi semua penghuni bumi ini, lebih memilih profesi jurnalis.
Dunia jurnalistik telah dikenalinya secara otodidak sejak remaja. Sejak awal, sangat berminat pada isu konservasi, lingkungan, kemanusiaan hingga petualangan serta fotografi.

Situs kusukabumiku.com ini dibuat dan dibangun pada intinya sebagai media kampanye pembelaan lingkungan, alam alami, selainnya sebagai salah satu wadah untuk menyalurkan minat dan menyimpan sejumlah hasil karya jurnalistik.

Similar Posts