Warga Sukabumi Diduga Berjumpa Harimau Jawa

KUSUKABUMIKU.com – Sejumlah lima warga Kecamatan Surade, Sukabumi, Jawa Barat dilaporkan sempat berjumpa dengan binatang buas yang diduga harimau jawa.

Perjumpaan tiga pemuda dan dua pemudi dengan harimau tersebut terjadi di jalan desa wilayah Desa Cipeundeuy pada Minggu (18/8/2019) sekitar pukul 23:30 WIB.

Peristiwa yang sempat membuat ketakutan kelima warga tersebut dan geger masyarakat sudah diketahui Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.

“Ya waktu itu malam hari kami pulang main dari Surade, di lokasi ini saya berjumpa dengan harimau,” ungkap seorang pemuda Ripi Yanur Fajar (24) saat menujukkan lokasi perjumpaan dengan harimau di Desa Cipeundeuy, Kamis (19/5/2022).

Ripi menjelaskan saat pulang menuju rumah ia seorang diri mengendarai sepeda motor jenis honda beat. Sedangkan empat temannya menumpang mobil jenis Suzuki Escudo.

Beberapa meter sebelum kejadian, Ripi mengaku mendengar bunyi berisik dari kebun di sebelah kiri. Bunyinya itu seperti binatang sedang berlari menginjak dedaunan kering.

Saat di lokasi, diapun langsung memperlambat laju motornya, bahkan mengerem. Tiba-tiba ada binatang yang melompati pagar hingga mengenai kaca spion motor sebelah kiri. Bahkan kaca spion sempat terjatuh dari batangnya.

“Awalnya saya curiga babi. Karena takut diseruduk saya mengerem motor. Namun bukannya babi, ternyata yang lompat itu harimau,” jelas alumni SMK jurusan otomotif itu.

“Harimau itu sepertinya terjatuh langsung posisi terjaga dan berhadapan dengan saya sekitar empat meteran,” sambung pemuda yang sedang merintis usaha bengkel sepeda motor itu.

Menurut Ripi kejadiannya sangat cepat. Selang sekitar setengah menit kemudian mobil tiba di belakang, dan langsung ikut berhenti.

Karena lokasi mobil berada tepat di belokan, jadi lampu sorotnya tidak langsung mengenai tubuh harimau yang dalam posisi terjaga.

“Lampu motor juga tidak langsung mengenai kepala harimau agak di pinggir. Namun wajahnya agak jelas kalau itu bentuk harimau, namun badannya kurus, kumal, tingginya kurang semeter,” ujar dia.

“Saya bisa memastikan itu harimau, bukan macan tutul tapi gak tahu harimau apa. Intinya yang warnanya kuning belang hitam, dan ekornya menyentuh tanah dan ujungnya terlihat melengkung, lentik ke atas,” sambung Ripi.

Setelah itu, ia membunyikan klakson motor yang diikuti klakson mobil. Harimau langsung berdiri berbalik arah dan langsung lari di jalan desa. Sekitar 50 meteran terlihat harimau itu belok ke kanan masuk ke kebun dan hilang dalam kegelapan.

Trauma melintas di jalan desa

Meskipun masih diliputi rasa takut, sebulan kemudian pada Jumat 27 September 2019, Ripi menuturkan dia kembali ke lokasi perjumpaan harimau.

Saat itu mengantar kenalannya, Kalih Raksasewu dari Bogor yang datang bersama temannya untuk menyelidiki ke lokasi perjumpaan harimau.

“Ditemukan sehelai rambut sekitar tiga sentimeter yang diduga rambut harimau tersangkut di pagar saat melompat,” tutur Ripi yang sempat ketakutan kembali berjumpa harimau.

“Ada juga temuan jejak dan goresan kuku di bebatuan. Semua temuan informasinya dari Pak Kalih sudah diserahkan ke lembaga berwenang,” kata Ripi.

Dia mengharapkan hasil temuannya tersebut bisa mengungkap jenis binatang yang dijumpai bersama empat temannya. Karena hingga saat ini, dia masih bingung dengan yang pernah dilihatnya.

“Sampai sekarang masih bingung, yang dilihat itu benar-benar harimau nyata, atau harimau mistis. Saya berharap hasil temuannya bisa mengungkap semuanya,” harap Ripi.

Saat ini, lanjut dia sudah kembali berani melintas lokasi perjumpaan dengan harimau di jalan desa itu. Namun bila malam hari tetap saja rasa khawatir itu masih ada dan harus ditemani beberapa orang.

“Selama tiga bulan saya tidak melintas jalan desa ini, kalau mau keluar dusun saya terpaksa melalui jalan yang lain. Meski harus berputar jauh,” aku Ripi yang sempat bekerja bengkel di Bogor.

Berharap ada penelitian

Kepala Desa Cipeundeuy Bakang Anwar  As’adi menuturkan saat peristiwa itu terjadi Agustus 2019 belum menjabat sebagai Kepala Desa Cipeundeuy,  karena baru dilantik Februari 2020. Namun sebagai penduduk Dusun Cimandala sempat mendengar kabar tersebut.

“Waktu itu informasinya ada seorang warga Ripi berjumpa dengan diduga harimau saat melintas jalan di hutan rakyat,” tutur Bakang ditemui di Kantor Desa Cipeundeuy, Kamis (19/5/2022).

Kepala Desa Cipeundeuy Bakang Anwar As’adi

Bahkan lanjut dia, yang melihat binatang diduga harimau bukan hanya seorang, namun waktu itu ada empat warga lainnya. Informasi mengenai warga berjumpa dengan harimau itu menyebar pada masyarakat.

“Saat itu sempat heboh, ada warga yang melihat harimau. Awalnya warga sempat khawatir dan saling mengingatkan. Namun seiring berjalan waktu hingga saat ini sudah kembali normal,” ujar Bakang.

Namun lanjut dia meskipun kondisi masyarakat sudah tidak ada keresahan, kasus perjumpaan warga dengan diduga harimau tersebut harus ada penyelesaian hingga tuntas.

“Jangan sampai blunder. Saya ingin masalah ini segera dipastikan oleh instansi yang berwenang untuk penyelesaiannya. Ada penelitian atau apalah agar ada kepastian,” kata Bakang.

Apalagi, lanjut dia, dari lokasi ada temuan berupa sehelai rambut yang diduga rambut harimau dan jejak-jejaknya. Informasinya barang bukti itu sudah diserahkan pada instansi berwenang.

Juga Bakang mengakui sempat kedatangan seorang petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat pada 21 Januari 2022. Saat itu, ia pun sempat mendampingi bertemu dengan Ripi.

“Hingga sekarang belum ada komunikasi lagi, bagaimana hasilnya,” aku dia

Bakang berharap tabir ini segera terungkap dan ada penyelesaian. Karena bila tidak dituntaskan, tidak terungkap bisa menjadi kekhawatiran bagi masyarakat sehingga warga bisa berspekulasi.

“Saya berharap instansi berwenang cepat menangani informasi perjumpaan satwa ini. Karena satwa ini luar biasa bila ada di sini, menurut saya ini aset negara bahkan aset dunia,” harap Bakang.

Sesepuh menilai harimau karuhun

Kepala Dusun Cimandala, Deris membenarkan pada 2019 mendapatkan informasi ada warga yang berjumpa dengan binatang buas, diduga harimau. Bahkan kelima warga yang berjumpa harimau itu menceritakan langsung pengalamannya.

“Ya sudah lama, tahun 2019. Setelah kejadian kelima warga datang ke saya dan menceritakan pengalamannya bertemu dengan harimau,” kata Deris.

“Sayapun saat itu sudah mengimbau kepada masyarakat yang bepergian ke kebun dan  lainnya untuk tetap waspada,” sambung dia.

Menurut Deris hingga saat ini sejak lima warga berjumpa dengan harimau sudah lebih dua tahun. Namun selama ini tidak mendapatkan informasi atau laporan dari warga yang berjumpa dengan harimau atau adanya gangguan dari harimau.

“Hingga sekarang ini saya tidak mendengar kabar atau laporan mengenai hewan ternak yang dimangsa harimau,” ujar Deris.

Bahkan lanjut dia, para sepuh di Dusun Cimandala menilai bila harimau yang berjumpa dengan kelima warga itu merupakan harimau karuhun, bukan binatang yang berasal dari hutan.

“Kata para sesepuh, jangan panik, itu bukan harimau dari hutan. Kalau dari lokasi itu, berarti meong atau maung (harimau) karuhun,” tutur Deris.

Silakan saksikan videonya

Comments

comments

budiyanto sukabumi

Budiyanto hanyalah seorang individu yang sedang mengembara di muka bumi ini, dan untuk mengisi waktunya, agar dapat bermanfaat bagi semua penghuni bumi ini, lebih memilih profesi jurnalis. Dunia jurnalistik telah dikenalinya secara otodidak sejak remaja. Sejak awal, sangat berminat pada isu konservasi, lingkungan, kemanusiaan hingga petualangan serta fotografi. Situs kusukabumiku.com ini dibuat dan dibangun pada intinya sebagai media kampanye pembelaan lingkungan, alam alami, selainnya sebagai salah satu wadah untuk menyalurkan minat dan menyimpan sejumlah hasil karya jurnalistik.

Tinggalkan Balasan